PONTIANAK – Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, menilai bahwa penyelenggaraan event olahraga tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada aspek kompetisi semata.
Menurutnya, kegiatan olahraga akan memberikan dampak yang jauh lebih luas apabila dikolaborasikan dengan sektor lain, seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta seni pertunjukan.
Gagasan tersebut diwujudkan Satarudin melalui penyelenggaraan Turnamen Mini Soccer Open Tournament Piala Ketua DPRD Kota Pontianak se-Kalimantan Barat. Event yang digelar selama sepekan ini tidak hanya menyuguhkan pertandingan olahraga, tetapi juga menghadirkan deretan pelaku UMKM dan pertunjukan musik sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
“Saya mencoba mengadakan event olahraga yang dikolaborasikan dengan UMKM dan pertunjukan musik. Dengan menyatukan tiga sektor ini, banyak nilai positif yang bisa kita dapatkan sekaligus,” ujar Satarudin saat ditemui pada malam final turnamen, Minggu (25/1/2026).
Menurutnya, kolaborasi olahraga, UMKM, dan seni merupakan konsep yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Di satu sisi, event olahraga dapat menjadi wadah pembinaan dan pengembangan atlet, sementara di sisi lain kehadiran UMKM membuka ruang perputaran ekonomi, dan seni pertunjukan menjadi sarana ekspresi serta hiburan bagi masyarakat.
“Kita menciptakan ruang bagi atlet untuk berkembang, kita juga memberikan peluang rezeki bagi pelaku UMKM, dan sekaligus menghadirkan panggung bagi musisi-musisi Kota Pontianak. Ini adalah konsep kolaborasi yang saling menguatkan,” jelasnya.
Satarudin menilai, ketiga sektor tersebut sebenarnya memiliki keterkaitan yang erat dan sangat mungkin digabungkan dalam satu kegiatan besar. Turnamen mini soccer yang ia gagas menjadi contoh konkret bagaimana olahraga mampu menjadi magnet kehadiran masyarakat, yang kemudian berdampak langsung pada sektor ekonomi kreatif dan UMKM.
Ia menyebutkan, antusiasme penonton selama turnamen berlangsung terbilang tinggi. Tidak hanya pada laga final, tetapi juga pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari kualitas peserta yang mengikuti turnamen tersebut.
“Peserta yang ikut tidak sembarangan. Banyak pemain sepak bola dengan kemampuan bagus yang tampil. Bahkan ada informasi bahwa beberapa tim mendatangkan pemain dari luar Kalimantan. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang dan menonton langsung,” katanya.
Dengan banyaknya penonton yang hadir, aktivitas ekonomi pun ikut bergerak. Kehadiran masyarakat di sekitar lapangan pertandingan membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan berbagai produk, khususnya kuliner.
“Setiap ada keramaian, pasti orang akan mencari makanan atau minuman. Di situlah UMKM mengambil peran. Mereka menawarkan kuliner dengan harga terjangkau, mulai dari jajanan ringan sampai minuman. Dengan begitu, olahraga tetap berjalan dan ekonomi UMKM ikut bergeliat,” ungkap Satarudin.
Pada malam puncak atau final turnamen, panitia juga menghadirkan pertunjukan musik yang menampilkan band-band indie lokal asal Kota Pontianak. Menurut Satarudin, langkah ini sengaja dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan seni dan industri musik lokal.
“Di Pontianak ini sebenarnya banyak band indie dengan kualitas lagu yang bagus dan karakter musik yang kuat. Mereka tidak kalah dengan band-band dari luar daerah, hanya saja masih membutuhkan lebih banyak ruang untuk berekspresi,” ujarnya.
Ia menilai, sudah saatnya anak-anak muda Pontianak merasa bangga terhadap karya musisi lokal. Dengan seringnya melibatkan band indie dalam berbagai event, diharapkan industri musik lokal dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
“Sekarang ini akses informasi sangat terbuka. Siapa saja bisa dikenal luas, termasuk band dari Pontianak. Tapi tentu perlu dukungan bersama, termasuk dari pemerintah dan penyelenggara event. Karena itu, sektor seni juga harus kita sentuh dan terus kita kolaborasikan,” tegasnya.
Satarudin mengaku secara langsung menyaksikan penampilan para musisi lokal yang tampil di panggung hiburan turnamen tersebut. Ia menilai karya-karya yang dibawakan memiliki kualitas yang baik dan berpotensi memiliki basis penggemar yang kuat.
“Lagu-lagu mereka bagus, karakternya kuat. Kalau mereka tampil di luar daerah, secara tidak langsung mereka juga membawa dan memperkenalkan nama Pontianak sebagai daerah asalnya,” tambahnya.
Kolaborasi antara olahraga, UMKM, dan seni ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pegiat seni Kalimantan Barat, Rizal Hamka, menyambut baik konsep event yang menggabungkan pertandingan olahraga dengan pertunjukan musik.
“Kolaborasi seperti ini merupakan sesuatu yang baru dan sangat positif. Saya titip kepada Bang Satar agar kegiatan yang melibatkan seni pertunjukan seperti ini bisa diperbanyak ke depannya,” ucap Rizal.
Hal senada disampaikan oleh Vokalis band Cabik, Dinan. Ia mengapresiasi inisiatif Ketua DPRD Kota Pontianak yang telah memberikan ruang bagi musisi lokal untuk tampil di hadapan publik.
“Terima kasih Bang Satar sudah membuat event seperti ini. Penonton bisa belanja di stand UMKM, menikmati musik, sekaligus menonton pertandingan olahraga. Ini terobosan yang sangat bagus. Saya berharap event seperti ini tidak berhenti sampai di sini saja,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Satarudin berharap konsep kolaborasi lintas sektor dapat menjadi inspirasi bagi penyelenggaraan event-event lain di Kota Pontianak. Ia optimistis, pendekatan semacam ini mampu memberikan dampak ganda, baik dari sisi pembangunan sumber daya manusia melalui olahraga dan seni, maupun dari sisi penguatan ekonomi masyarakat.
“Kalau dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, kolaborasi seperti ini bisa menjadi model pengembangan event di Pontianak. Bukan hanya ramai sesaat, tapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
