PONTIANAK – Tahun Baru Imlek memiliki arti yang sangat mendalam bagi masyarakat Tionghoa di Kota Pontianak dan Singkawang. Perayaan ini tidak sekadar menandai pergantian tahun dalam kalender lunar, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan keluarga, penghormatan terhadap leluhur, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Di Kalimantan Barat, Imlek telah berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang majemuk. Perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi peristiwa budaya yang dinikmati oleh masyarakat lintas etnis dan agama. Hal tersebut mencerminkan kuatnya nilai toleransi dan harmoni sosial di wilayah ini.
Imlek atau Chinese New Year mengikuti sistem penanggalan lunar Tionghoa yang berbasis pada peredaran bulan. Dalam kepercayaan dan budaya Tionghoa, Imlek dimaknai sebagai awal yang baru, waktu untuk meninggalkan energi lama, serta menyambut harapan akan keberuntungan, kemakmuran, dan keselamatan bagi individu maupun keluarga.
Di Kota Pontianak, suasana Imlek biasanya sudah terasa sejak beberapa minggu sebelum hari raya. Lampion-lampion merah mulai menghiasi rumah warga, jalan utama, pusat perbelanjaan, hingga kawasan publik. Warna merah yang mendominasi dekorasi Imlek dipercaya melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari hal-hal buruk.
Selain dekorasi, berbagai kegiatan ekonomi dan budaya turut meramaikan suasana. Pameran UMKM, bazar kuliner khas Imlek, serta pertunjukan seni budaya menjadi bagian dari rangkaian persiapan. Kehadiran kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.
Pemerintah Kota Pontianak menilai perayaan Imlek dan Cap Go Meh sebagai momentum penting dalam mempererat hubungan sosial antarwarga. Di tengah keberagaman etnis dan budaya, Imlek menjadi simbol kebersamaan dan saling menghormati yang telah lama terbangun di kota ini.
Bagi masyarakat Tionghoa, salah satu makna utama Imlek adalah silaturahmi keluarga. Perayaan ini menjadi waktu yang dinantikan untuk berkumpul bersama anggota keluarga, baik yang tinggal di satu kota maupun yang datang dari luar daerah. Momen kebersamaan tersebut dimanfaatkan untuk saling berbagi cerita, menyampaikan harapan, serta mempererat ikatan kekeluargaan.
Tradisi makan bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Imlek. Berbagai hidangan khas seperti kue keranjang, dodol, dan sajian simbolik lainnya disiapkan sebagai perlambang rezeki, keharmonisan, dan umur panjang. Hidangan-hidangan ini tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga mengandung makna filosofis yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain kebersamaan keluarga, penghormatan kepada leluhur juga menjadi aspek penting dalam perayaan Imlek. Banyak keluarga Tionghoa di Pontianak dan Singkawang melaksanakan sembahyang di kelenteng atau di altar rumah. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas perlindungan dan berkah yang telah diterima, sekaligus memohon keselamatan dan kelancaran di tahun yang baru.
Tradisi penghormatan leluhur mencerminkan kuatnya ikatan spiritual antara generasi masa kini dengan nenek moyang mereka. Nilai ini menjadi salah satu fondasi utama dalam budaya Tionghoa yang terus dijaga meskipun zaman terus berkembang.
Rangkaian perayaan Imlek di Kalimantan Barat tidak berhenti pada hari pertama tahun baru lunar. Perayaan berlanjut hingga Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15. Cap Go Meh dimaknai sebagai penutup rangkaian Imlek sekaligus simbol penyempurnaan doa dan harapan yang telah dipanjatkan sebelumnya.
Kota Singkawang dikenal luas sebagai pusat perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Julukan Kota Seribu Kelenteng menjadikan Singkawang sebagai destinasi utama wisata budaya, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Perayaan Cap Go Meh di kota ini menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti.
Di Singkawang, perayaan Cap Go Meh biasanya dipusatkan di Stadion Kridasana dan sejumlah ruas jalan utama. Berbagai atraksi budaya seperti barongsai, tarian naga, pawai lampion, serta pertunjukan seni tradisional Tionghoa menjadi daya tarik utama. Ribuan pengunjung memadati kota untuk menyaksikan kemeriahan tersebut.
Pemerintah daerah menyebutkan bahwa perayaan Cap Go Meh memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Peningkatan kunjungan wisatawan berdampak langsung pada sektor perhotelan, kuliner, transportasi, serta UMKM yang menjual produk budaya dan makanan khas.
Makna Imlek bagi masyarakat Tionghoa di Pontianak dan Singkawang tidak hanya terbatas pada aspek budaya dan spiritual, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Perayaan ini menjadi simbol toleransi dan keberagaman di Kalimantan Barat, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang turut menikmati kemeriahannya.
Di Pontianak, misalnya, pawai naga, lampion, dan festival kuliner Imlek sering kali dihadiri oleh warga lintas etnis dan agama. Hal ini menunjukkan bahwa Imlek telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang inklusif, memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat multikultural.
Perayaan Imlek di Pontianak dan Singkawang memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur tetap hidup dan relevan di era modern. Nilai-nilai kebersamaan keluarga, penghormatan kepada leluhur, harapan akan keberuntungan, serta sikap saling menghormati antarumat beragama terus diwariskan kepada generasi muda.
Di tengah perkembangan zaman, Imlek tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga identitas, memperkuat persatuan, dan merawat toleransi. Makna inilah yang menjadikan Imlek sebagai salah satu perayaan penting yang berkontribusi pada keharmonisan sosial di Kalimantan Barat.
