JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera, termasuk di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, dengan target menyelesaikan pembangunan 86 sumur bor sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Upaya ini dimaksudkan untuk memulihkan akses air bersih di sejumlah titik terdampak dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Instruksi percepatan pembangunan sumur bor tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, kepada jajarannya, termasuk kepada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU. Menurutnya, ketersediaan air bersih menjadi prioritas utama dalam masa pemulihan karena merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kesehatan, aktivitas sosial, dan produktivitas warga pascabencana.
“Targetnya sebelum bulan Ramadan, kita sudah bisa menyelesaikan sumur-sumur bor ini,” tegas Menteri Dody pada awal Februari 2026.
Dari total 86 unit yang tengah dibangun, sebanyak 67 unit direncanakan di Provinsi Aceh dan 19 unit di Provinsi Sumatera Barat. Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara, pendekatan yang diterapkan lebih pada optimalisasi sistem penyediaan air minum yang sudah ada, termasuk dukungan melalui sarana air bersih yang memadai.
Sumur-sumur bor yang dibangun terdiri dari dua jenis utama sesuai kebutuhan masyarakat setempat:
-
Sumur bor air dalam, yang dirancang dengan kedalaman lebih dari 80 meter. Sumur jenis ini diproyeksikan menghasilkan air dengan kualitas layak minum, memenuhi standar kesehatan dan aman digunakan untuk konsumsi sehari-hari.
-
Sumur bor dangkal, yang umumnya berada pada kedalaman lebih rendah. Air dari sumur dangkal biasanya digunakan untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lain, serta membantu membersihkan lumpur dan material pascabencana.
Untuk menjamin keberlanjutan pasokan air, setiap sumur dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti pompa submersible, generator listrik, tangki air atau toren berkapasitas lebih dari 1.000 liter, serta hidran umum yang dapat dimanfaatkan warga setempat.
Hingga akhir Januari 2026, progres pembangunan infrastructure sumur bor menunjukkan variasi tingkat kemajuan. Sumur bor dangkal telah mencapai progres yang lebih tinggi dibandingkan sumur dalam, namun secara keseluruhan semua unit terus dikebut pengerjaannya oleh tim teknis.
Standar kualitas air dari sumur bor ini juga menjadi perhatian serius pemerintah. Air yang dihasilkan telah melalui pengujian parameter utama, seperti kadar pH, kekeruhan, dan kandungan mineral. Hal ini penting agar air dapat digunakan secara aman untuk kebutuhan masyarakat, baik untuk minum maupun kegiatan rumah tangga lainnya.
Pembangunan sumur bor ini juga berfungsi sebagai bagian dari upaya memulihkan beberapa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang mengalami gangguan akibat dampak bencana. Sebanyak 176 unit SPAM terdampak di berbagai wilayah Sumatera mendapat dukungan agar kembali beroperasi normal seiring selesainya jaringan sumur bor yang dibangun.
Penanganan pascabencana di Sumatera tidak berhenti pada pembangunan sumur bor. Pemerintah melalui Kementerian PU juga telah melakukan berbagai langkah teknis untuk perbaikan infrastruktur darurat, termasuk normalisasi sungai, perbaikan jalan dan jembatan yang putus, serta rekonstruksi jaringan irigasi yang rusak. Upaya ini sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk memulihkan konektivitas dan layanan dasar warga secara komprehensif.
Selain itu, ketersediaan air bersih yang berkelanjutan menjadi bagian penting dari pendukung kesehatan masyarakat, terutama menjelang Ramadan, saat kebutuhan air bersih meningkat signifikan. Keberadaan sumur bor berkualitas ini diharapkan dapat menjadi sistem air alternatif yang mampu menopang kebutuhan masyarakat sekaligus menambah daya tahan infrastruktur sumber daya air di daerah bencana.
Pemulihan akses air bersih secara cepat merupakan salah satu elemen penting untuk mempercepat pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Dengan tersedianya sarana air yang memadai, warga dapat kembali beraktivitas secara normal, fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, dan tempat ibadah dapat beroperasi efektif, serta risiko kesehatan akibat kekurangan air bersih dapat ditekan.
Langkah percepatan pembangunan sumur bor ini menjadi bagian nyata dari program “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak”, yang dicanangkan pemerintah dalam menjalankan agenda prioritas pembangunan nasional. Melalui penyelesaian pembangunan sumur bor tepat waktu sebelum Ramadan, pemerintah berharap akses air bersih menjadi lebih cepat dipulihkan sehingga kebutuhan masyarakat tidak lagi terhambat oleh keterbatasan pasokan air.
