PONTIANAKINFOMEDIA.COM, PONTIANAK- Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga waktu yang tepat untuk memperkuat nilai persatuan, menjaga keamanan, serta mempererat hubungan antarwarga.
Pesan tersebut disampaikan oleh penceramah nasional, Das’ad Latif, saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Safari Kamtibmas Ustadz di Bulan Puasa (SAKURA) yang digelar di Masjid Raya Mujahidin, Minggu malam (8/3/2026).
Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri ratusan jamaah dari berbagai wilayah di Kota Pontianak. Selain menjadi ajang dakwah, kegiatan ini juga bertujuan mempererat hubungan antara masyarakat, tokoh agama, serta aparat pemerintah dan kepolisian dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat selama Ramadan.
Dalam ceramahnya, Das’ad Latif menekankan bahwa rasa aman yang dirasakan masyarakat Indonesia saat ini merupakan nikmat besar yang sering kali tidak disadari. Menurutnya, keamanan merupakan fondasi utama yang memungkinkan masyarakat menjalankan berbagai aktivitas kehidupan dengan tenang.
“Ketika negara kita aman, masyarakat bisa bekerja, berdagang, beribadah, dan menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut. Itulah nikmat yang harus kita syukuri bersama,” ujarnya di hadapan para jamaah.
Ia menjelaskan bahwa keamanan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh masyarakat. Karena itu, setiap warga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ketertiban dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik.
Dalam tausiyahnya, Das’ad Latif juga mengajak masyarakat untuk melihat kondisi di sejumlah negara yang masih dilanda konflik. Menurutnya, banyak masyarakat di wilayah tersebut yang kesulitan menjalani kehidupan normal karena ketidakstabilan keamanan.
Ia menggambarkan bagaimana masyarakat di daerah konflik sering kali harus menghadapi kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, hingga tempat tinggal yang aman.
“Di beberapa tempat di dunia, masyarakat hidup dalam ketakutan. Mereka sulit beribadah dengan tenang, bahkan untuk mendapatkan makanan dan air saja harus berjuang. Sementara kita di Indonesia masih bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan nyaman. Ini adalah nikmat besar yang patut disyukuri,” katanya.
Melalui perbandingan tersebut, ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan.
Das’ad Latif juga menyinggung keberagaman yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Ia menilai bahwa perbedaan suku, budaya, dan latar belakang justru menjadi kekuatan bangsa jika dikelola dengan baik.
Menurutnya, Kota Pontianak merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan etnis mampu hidup berdampingan secara harmonis.
“Di Pontianak kita bisa melihat berbagai suku hidup berdampingan, seperti Melayu, Tionghoa, Bugis, Makassar, Mandar, Minangkabau, dan lainnya. Alhamdulillah semuanya bisa hidup rukun. Inilah salah satu bukti bahwa keberagaman adalah kekuatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga persatuan tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata seperti saling menghormati, menjaga silaturahmi, serta menghindari fitnah dan permusuhan.
Dalam kesempatan tersebut, Das’ad Latif juga memberikan apresiasi terhadap peran aparat keamanan yang terus berupaya menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa meskipun polisi sering menjadi sasaran kritik, peran mereka sangat penting dalam menjaga keamanan masyarakat.
“Sering kali orang mengkritik polisi. Tetapi ketika rumah kemalingan, terjadi sengketa, atau ada masalah hukum, siapa yang dicari? Polisi. Karena itu kita perlu menghargai peran mereka,” ungkapnya.
Ia berharap hubungan antara masyarakat dan aparat keamanan dapat terus terjalin dengan baik sehingga tercipta lingkungan yang aman dan kondusif.
Selain menekankan pentingnya keamanan, Das’ad Latif juga mengingatkan umat Islam agar tidak hanya fokus pada ibadah ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga memperhatikan akhlak dalam kehidupan sosial.
Ia mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW tentang orang yang bangkrut di akhirat. Menurut hadis tersebut, seseorang bisa saja memiliki banyak pahala dari ibadahnya, namun pahalanya habis karena kesalahan terhadap sesama manusia.
“Orang yang bangkrut bukan hanya yang tidak punya harta. Tetapi orang yang datang dengan banyak pahala salat, puasa, dan sedekah, namun selama hidupnya suka memfitnah, menzalimi orang lain, dan memutus silaturahmi. Akhirnya pahala itu habis untuk membayar kesalahan kepada orang lain,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah.
Kegiatan Safari Kamtibmas Ramadan tersebut juga dihadiri oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Dalam sambutannya, Edi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang dinilai mampu memperkuat nilai keagamaan sekaligus menjaga keharmonisan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kerukunan dan persatuan.
“Kota Pontianak dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya. Selama ini kita mampu hidup rukun dan saling menghormati. Kondisi ini harus terus kita jaga bersama,” ujarnya.
Edi juga menekankan bahwa keamanan dan keharmonisan sosial merupakan faktor penting bagi pembangunan daerah.
Selain menjadi bulan penuh berkah, Ramadan juga dinilai sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat solidaritas sosial. Banyak kegiatan keagamaan dan sosial yang dapat mempererat hubungan antarwarga, seperti pengajian, buka puasa bersama, serta kegiatan amal.
Menurut Edi, kegiatan Safari Kamtibmas Ramadan tidak hanya memberikan pencerahan spiritual kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga keamanan lingkungan.
Ia yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di berbagai wilayah.
“Melalui kegiatan seperti ini kita diingatkan untuk menjaga kerukunan, mempererat silaturahmi, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah belah masyarakat,” katanya.
Dalam penutup kegiatan, masyarakat diajak untuk berperan aktif dalam menjaga ketertiban di lingkungan masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sederhana seperti menjaga komunikasi yang baik dengan tetangga, melaporkan potensi gangguan keamanan, serta menghindari penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Dengan kerja sama antara masyarakat, tokoh agama, pemerintah, dan aparat keamanan, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban di Kota Pontianak dapat terus terjaga, terutama selama bulan Ramadan.
Kegiatan Safari Kamtibmas Ramadan tersebut pun berlangsung dengan penuh khidmat. Para jamaah terlihat antusias mengikuti tausiyah hingga akhir acara, sekaligus menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat iman, persatuan, serta kepedulian terhadap sesama.





