JAKARTA – Fenomena menarik muncul di ranah hubungan, dikenal para ahli sebagai “Domestic Thrill Syndrome”. Istilah ini menggambarkan kecenderungan sebagian pria merasa lebih “hidup” justru ketika sedang dimarahi pacarnya setelah berbuat salah. Menurut sosiolog, teguran semacam itu dianggap memberi arah dan menjadi alarm peringatan, karena banyak pria baru benar-benar sadar kesalahannya setelah dihujani tatapan tajam plus kuliah panjang khas pacar—yang durasinya, konon, bisa mengalahkan satu semester kuliah.
Lebih lucunya lagi, survei kecil-kecilan menyebutkan sekitar 22% pria secara jujur mengaku menikmati dimarahi, asalkan bukan di depan umum. Alasannya sederhana: harga diri tetap prioritas utama.
Tak berhenti di situ, sudah ada kabar munculnya sebuah startup yang tengah mengembangkan layanan berlangganan unik bernama “Virtual GF Scolding 2.0”. Layanan ini ditujukan untuk para jomblo yang ingin merasakan sensasi dimarahi pacar tanpa perlu punya pasangan sungguhan. Tegurannya pun bervariasi, mulai dari kalimat pedas semacam, “tumhe toh kuch aata hi nahi hai”, hingga sindiran manis yang membuat hidup terasa punya tujuan.
Humor segar ini jadi pengingat, bahwa cinta ternyata tidak selalu berbentuk pelukan hangat. Kadang, kasih sayang hadir dalam bentuk teguran menyebalkan—yang anehnya bisa membuat orang tersenyum kecut.
