PONTIANAK – Edi Susanto, pemilik akun TikTok yang sempat mengunggah informasi lowongan kerja di sebuah restoran di Amerika Serikat, memberikan klarifikasi usai namanya disebut-sebut dalam kasus dugaan penipuan berkedok tawaran pekerjaan luar negeri.
Dalam penjelasannya pada Selasa (10/12), Edi menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam praktik penipuan tersebut dan justru ikut menjadi korban. “Saya ini sebenarnya juga korban,” ujarnya.
Hanya Membagikan Informasi
Edi menyatakan keberatan atas tudingan yang menyebut dirinya merupakan bagian dari pihak yang menipu calon pekerja. Ia mengatakan hanya meneruskan informasi lowongan yang diterimanya dari seorang kenalan berinisial R, tanpa memberikan jaminan apa pun.
“Saya hanya membantu menginformasikan lowongan pekerjaan itu,” jelasnya.
Menurut Edi, R menghubunginya setelah mendapatkan info pekerjaan dari seseorang berinisial C yang tinggal di Surabaya. Edi mengaku tertarik dan dijanjikan kesempatan bekerja di restoran di Amerika Serikat tersebut. Karena disebut membutuhkan sekitar enam pekerja, ia kemudian membagikan informasi itu melalui akun TikTok miliknya.
Awal Perekrutan dan Munculnya Banyak Korban
Setelah unggahan tersebut, seorang perempuan bernama Hanna menghubungi Edi untuk menanyakan lowongan tersebut. Selain itu, seorang temannya turut menginformasikan hal yang sama kepada E alias AF. AF kemudian menjadi orang pertama yang berkomunikasi dengan C, sekaligus membuka jalan bagi perekrutan calon pekerja lainnya.
Jumlah calon pekerja yang mendaftar semakin bertambah. Namun Edi menegaskan hanya mengetahui tujuh orang awal. “Di luar yang tujuh itu, saya tidak tahu siapa saja. AF yang merekrut lainnya, bukan saya,” katanya.
Edi juga mengaku menjalani proses yang sama seperti calon pekerja lainnya, termasuk beberapa kali penundaan jadwal wawancara visa ke Amerika Serikat. Ia mengklarifikasi bahwa dirinya memang tidak mengalami kerugian finansial karena sejak awal meminta biaya keberangkatannya dipotong melalui gaji jika sudah bekerja. Ia juga mengaku dijanjikan posisi sebagai kepala restoran sekaligus kasir.
Biaya Awal dan Dugaan Penipuan
Edi membenarkan bahwa para calon pekerja membayar biaya awal sebesar Rp25,5 juta kepada C, yang disebut sebagai biaya pengurusan visa, tiket, dan administrasi. Ia menegaskan tidak pernah menerima uang dari proses tersebut maupun mengetahui adanya tambahan biaya yang kemudian diminta oleh C.
“Saya tidak menerima uang sepeser pun dan tidak berkomplot dengan siapa pun,” tegasnya.
Edi mengatakan menghormati laporan para korban yang sudah masuk ke Polda Kalimantan Barat dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. Ia hanya menyayangkan karena para korban tidak membuka ruang diskusi sebelum membuat laporan. “Kita ikuti saja proses hukum yang berjalan,” ujarnya.
Pengakuan Para Korban
Sebelumnya, belasan warga Kalimantan Barat mengaku menjadi korban dugaan penipuan bermodus tawaran bekerja di Amerika Serikat, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp1,2 miliar. Para korban dijanjikan pekerjaan di sektor restoran dengan gaji ribuan dolar AS per bulan serta fasilitas tempat tinggal dan makan.
Hanna (30), salah satu korban, mengatakan mengetahui info pekerjaan tersebut dari unggahan TikTok Edi Susanto. Ia mengaku dijanjikan keberangkatan pada 10 Oktober 2025, namun jadwal tersebut terus mundur.
Korban lain, Hery (46), juga menyampaikan bahwa wawancara visa di Konsulat Amerika Serikat di Surabaya mengalami penundaan hingga tujuh kali. Para korban disebut telah menghabiskan biaya tambahan selama berada di Surabaya untuk menunggu proses yang tak kunjung jelas.
Menurut Hery, sedikitnya 19 orang menjadi korban, dengan kerugian masing-masing mencapai Rp30 juta hingga ratusan juta rupiah, terutama bagi mereka yang berangkat bersama keluarga.
“Kami sudah melapor ke Polda Kalbar. Kami menunggu tindak lanjutnya,” ujarnya.
