JAKARTA – Rasa bimbang, kecenderungan berpikir berlebihan, hingga perasaan belum menemukan tujuan hidup di rentang usia 20 hingga awal 30-an sering kali dianggap sebagai tanda ketertinggalan. Padahal, kondisi tersebut justru berkaitan erat dengan proses perkembangan alami otak manusia.
Hasil penelitian dari University of Cambridge menunjukkan bahwa jaringan otak manusia baru mencapai fase kematangan yang lebih stabil ketika memasuki usia sekitar 32 tahun. Pada periode ini, kemampuan otak dalam mengelola emosi, mempertimbangkan risiko, serta mengambil keputusan jangka panjang mulai bekerja lebih optimal.
Sebelum mencapai tahap tersebut, otak masih mengalami penyempurnaan fungsi-fungsi penting, terutama yang berkaitan dengan pengendalian diri, kematangan emosional, dan penilaian rasional. Masa transisi ini membuat seseorang lebih rentan mengalami keraguan, kebingungan arah hidup, serta tekanan mental.
Tak heran jika banyak individu di usia 20–30-an merasa tertinggal dibandingkan orang lain, mempertanyakan pilihan hidupnya, atau mengalami kecemasan berlebih terhadap masa depan. Para ahli menilai, tuntutan sosial yang menekankan pencapaian usia muda kerap tidak sejalan dengan kesiapan biologis otak.
Tekanan tersebut semakin diperparah oleh paparan media sosial yang menampilkan standar kesuksesan berdasarkan usia, seperti karier mapan, pernikahan, hingga kestabilan finansial. Padahal, setiap individu memiliki ritme perkembangan dan perjalanan hidup yang berbeda-beda.
Para peneliti menegaskan bahwa kegagalan, perubahan arah, serta proses pencarian jati diri di usia 20 hingga awal 30-an bukanlah tanda kemunduran. Sebaliknya, fase tersebut merupakan bagian penting dari pertumbuhan psikologis dan neurologis menuju kedewasaan yang lebih matang.
Memasuki usia 30-an pun tidak seharusnya dipandang sebagai keterlambatan. Justru pada fase inilah banyak orang mulai memiliki kejelasan tujuan, kestabilan emosi, serta kemampuan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang lebih seimbang.
Temuan ini diharapkan mampu mengikis stigma sosial terhadap individu usia 30-an yang masih berproses dalam membangun kehidupannya, sekaligus mengingatkan bahwa perkembangan manusia tidak selalu berjalan lurus dan seragam pada setiap orang.
