Kabar duka datang dari dunia usaha Kalimantan Barat. Pengusaha ternama Siman Bahar, yang dikenal luas sebagai pemilik Hotel Golden Tulip Pontianak, dikabarkan meninggal dunia di Tiongkok pada Minggu (5/4/2026) sore waktu setempat.

Informasi yang beredar di lingkungan keluarga menyebutkan, Siman Bahar sempat menjalani perawatan intensif selama beberapa hari di salah satu rumah sakit di Tiongkok. Kondisinya dikabarkan menurun dan sempat berada dalam keadaan kritis sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Benar, kami mendapat kabar beliau meninggal dunia kemarin sore. Sebelumnya memang sempat dirawat di rumah sakit beberapa hari,” ujar salah seorang kerabat keluarga.

Hingga Senin (6/4/2026), keluarga masih melakukan pembahasan terkait proses pemulangan jenazah. Sejumlah opsi masih dipertimbangkan, mulai dari dipulangkan ke Pontianak, dibawa ke Jakarta, hingga dimakamkan di Tiongkok.

“Masih dibicarakan oleh keluarga. Untuk sementara belum ada keputusan final,” lanjut sumber tersebut.

Sosok Berpengaruh di Dunia Usaha Kalbar

Nama Siman Bahar bukanlah sosok asing di Kalimantan Barat. Pria yang juga dikenal dengan nama Bong Kin Phin itu merupakan salah satu pengusaha paling berpengaruh di Kalbar dalam dua dekade terakhir.

Ia dikenal luas melalui bisnis perhotelan, properti, hingga pertambangan. Salah satu aset yang paling melekat dengan namanya adalah Hotel Golden Tulip Pontianak, hotel berbintang yang menjadi salah satu ikon di Kota Pontianak.

Selain itu, Siman Bahar juga pernah menggagas proyek besar Mall of Borneo. Proyek pusat perbelanjaan yang dirancang berdiri di atas lahan sekitar 6 hektare itu sempat disebut-sebut akan menjadi mal terbesar di Kalimantan. Namun dalam perjalanannya, proyek tersebut menghadapi berbagai kendala.

Di tingkat nasional, Siman Bahar juga dikenal melalui kiprahnya di industri pengolahan logam mulia. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Loco Montrado dan menjalin kerja sama dengan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk.

Dijuluki “Manusia Banyak Harta”

Di kalangan masyarakat Kalbar, Siman Bahar kerap dijuluki “Manusia Banyak Harta”, merujuk pada akronim namanya. Julukan itu muncul karena luasnya jaringan bisnis yang dimilikinya, mulai dari sektor properti, hotel, hingga industri logam.

Meski perjalanan bisnisnya tak lepas dari sejumlah persoalan hukum, Siman Bahar dikenal sebagai sosok yang membangun usahanya dari nol. Dengan latar pendidikan hingga tingkat SMP, ia berhasil membangun kerajaan bisnis yang menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh di Kalimantan Barat.

Kepergian Siman Bahar meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan bisnis, karyawan, dan masyarakat Kalbar. Ucapan belasungkawa pun mulai ramai disampaikan di media sosial sejak kabar wafatnya beredar.