JAKARTA – PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas), bagian dari Pelindo Group, terus memperkuat perannya sebagai operator terminal multipurpose melalui peningkatan layanan, transformasi digital, dan efisiensi operasional di 11 cabang pelabuhan.
Digitalisasi dilakukan melalui sistem PTOS-M berbasis end-to-end yang mengintegrasikan perencanaan, operasional, hingga pembayaran dengan perbankan dan kepabeanan guna meningkatkan efisiensi dan transparansi layanan.
Direktur Dwi Rahmat Toto menyebut transformasi ini menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing serta kelancaran rantai pasok nasional.
Pada Triwulan I 2026, throughput nonpetikemas tercatat 12,84 juta ton, dengan dominasi curah kering 46% (5,76 juta ton), curah cair 25% (3,09 juta ton), general cargo 24% (2,92 juta ton), dan bag cargo 5% (656 ribu ton).
Curah cair tumbuh 16% (YoY) dan melampaui target 2026 hingga 23%, didorong ekspor CPO di Teluk Bayur, aktivitas di Pontianak, serta Tanjung Priok. Di tingkat cabang, Tanjung Priok unggul di general cargo, Teluk Bayur di curah cair, dan Bengkulu di curah kering.
Di Kalimantan Barat, Terminal Kijing mencatat capaian curah cair hingga 138% dari target dan terus dikembangkan sebagai pusat logistik internasional sejak 2022.

Selain itu, PTP mengembangkan layanan shorebase di Lhokseumawe, Tanjung Priok, Cirebon, dan Banyuwangi untuk mendukung industri migas, serta menghadirkan inovasi seperti portable drop tank dan submersible pump guna meningkatkan efisiensi bongkar muat.
Perusahaan juga menjalankan program ESG melalui elektrifikasi alat dan efisiensi energi.
SM Sekretaris Perusahaan Fiona Sari Utami menegaskan PTP tidak hanya fokus pada kinerja operasional, tetapi juga menjalankan program TJSL serta memperkuat kolaborasi dengan stakeholder dan media.
PTP Nonpetikemas optimistis dapat terus memperkuat perannya sebagai mitra logistik nasional dan mendorong daya saing Indonesia di tingkat global.




