MEMPAWAH – Pengembangan Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, terus dipacu oleh PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas Kalbar guna memperkuat arus logistik serta mendukung industri hilirisasi mineral di wilayah tersebut.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Kalbar, Suwanda, mengungkapkan bahwa pihaknya akan menambah fasilitas dermaga untuk mengakomodasi kebutuhan industri yang terus meningkat, khususnya untuk komoditas curah cair dan curah kering.

“Ke depan akan ditambah lagi dermaga untuk kegiatan curah cair maupun curah kering. Pengembangan ini akan dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Ekspansi Industri Dorong Pengembangan Pelabuhan

Pengembangan Pelabuhan Kijing juga didorong oleh ekspansi kawasan industri, terutama dari PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang akan melanjutkan proyek Smelter Grade Alumina Refinery Fase II (SGAR II).

Proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi bauksit menjadi aluminium di Kalimantan Barat. Selain itu, BAI juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara untuk mendukung operasional industri.

Dengan adanya proyek tersebut, kebutuhan infrastruktur pelabuhan dipastikan meningkat, termasuk penambahan dermaga baru untuk menunjang aktivitas logistik.

Aktivitas Pelabuhan Didominasi Bauksit dan Batu Bara

Saat ini, aktivitas di Pelabuhan Kijing didominasi oleh komoditas curah kering seperti bauksit, batu bara, dan alumina. Selain itu, terdapat juga aktivitas curah cair berupa bahan kimia industri.

Dalam satu bulan, pelabuhan ini mampu melayani sekitar 93 kapal, menunjukkan tingginya aktivitas logistik di kawasan tersebut.

Untuk curah cair, sebelumnya hanya melayani satu perusahaan, namun kini mulai bertambah dengan masuknya tenant baru, termasuk perusahaan seperti Apical Group.

Salah satu bahan yang ditangani adalah caustic soda liquid (CSL) yang digunakan dalam proses pengolahan bauksit menjadi alumina.

Inovasi Sistem Bongkar Muat Tingkatkan Efisiensi

PTP Nonpetikemas juga terus melakukan inovasi dalam sistem bongkar muat guna meningkatkan efisiensi operasional. Salah satunya adalah rencana penggunaan conveyor (alat pemindah barang otomatis) untuk mempercepat proses pemuatan komoditas curah.

Saat ini, pemuatan alumina masih menggunakan metode high blow tank, namun ke depan akan dikembangkan metode baru agar proses bongkar muat menjadi lebih cepat dan efisien.

Penggunaan conveyor juga direncanakan untuk mendukung kebutuhan batu bara bagi PLTU pada proyek SGAR II.

Target Pengembangan dan Kinerja Positif

Pengembangan fasilitas pelabuhan ditargetkan mulai berjalan pada semester II tahun 2026.

Dari sisi kinerja, PTP Nonpetikemas Kalbar mencatat peningkatan produktivitas bongkar muat. Saat ini, capaian tonnage per hour (TPH) telah mencapai angka sekitar 198, melampaui standar operasional yang berada di angka 169.

Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam efisiensi dan performa operasional pelabuhan.

Pengembangan Pelabuhan Kijing menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Kalimantan Barat sebagai pusat industri hilirisasi mineral, khususnya bauksit dan aluminium. Dengan dukungan infrastruktur yang terus ditingkatkan serta inovasi sistem operasional, pelabuhan ini berpotensi menjadi hub logistik utama di wilayah Kalimantan.