Daerah
Beranda / Daerah / Antisipasi Kemarau Panjang, Edi Imbau Warga Hemat Air

Antisipasi Kemarau Panjang, Edi Imbau Warga Hemat Air

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau warga untuk menyiapkan cadangan air di rumah mengantisipasi musim kemarau panjang.

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air bersih menyusul prakiraan musim kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang pada tahun ini.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode Juli hingga September diperkirakan menjadi puncak musim kemarau dengan curah hujan yang rendah.

Menurut Edi, kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena berpotensi mempengaruhi ketersediaan air baku bagi Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Ia meminta masyarakat memanfaatkan air secara bijak serta menyiapkan cadangan air di rumah apabila memungkinkan.

“Beberapa hari terakhir curah hujan sudah sangat rendah. Kami mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih. Bagi yang memiliki bak penampungan air, sebaiknya dimanfaatkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan, apabila kemarau berlangsung lebih dari tiga minggu tanpa hujan, debit Sungai Kapuas akan menurun. Kondisi tersebut berpotensi memicu intrusi air laut saat pasang sehingga kadar garam di Sungai Kapuas meningkat. Padahal sungai tersebut menjadi sumber utama air baku bagi PDAM Kota Pontianak.

Minta Dana Transfer Daerah Dikembalikan ke Posisi Awal

Menurut Edi, apabila kadar garam melebihi ambang batas, kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat dapat terganggu. Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah akan mengoperasikan intake Penepat sebagai sumber air baku cadangan.

“Air dari Penepat akan dicampurkan dengan air Sungai Kapuas agar kadar garamnya tidak terlalu tinggi. Langkah ini memang disiapkan khusus apabila terjadi kemarau panjang,” jelasnya.

Edi mengungkapkan, potensi kemarau tahun ini diperkirakan lebih berat dibanding beberapa tahun terakhir. Berdasarkan prakiraan BMKG, fenomena El Nino berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama sehingga risiko intrusi air laut semakin besar.

Ia menerangkan bahwa penyediaan air baku merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai Kalimantan I. Saat ini telah tersedia intake Penepat di lahan milik PDAM seluas sekitar sembilan hektare sebagai cadangan air tawar ketika terjadi intrusi air laut.

Namun demikian, pemanfaatan intake tersebut memerlukan biaya operasional yang cukup besar. Air harus dipompa menggunakan lima pompa sejauh kurang lebih 21 kilometer menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Imam Bonjol, sementara kapasitasnya hanya sekitar 500 liter per detik.

“Produksi air bersih kita mencapai sekitar 1.250 liter per detik untuk melayani sekitar 90,6 persen masyarakat Kota Pontianak. Karena itu, kami terus meminta perhatian pemerintah pusat agar kebutuhan air baku Kota Pontianak dapat dipenuhi,” katanya.

Selain mengantisipasi potensi gangguan pelayanan air bersih, Pemerintah Kota Pontianak juga mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan selama musim kemarau. Edi mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat suhu udara meningkat serta menggunakan masker apabila terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Masyarakat yang memiliki riwayat ISPA maupun asma harus lebih berhati-hati. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker apabila kualitas udara memburuk,” pesannya.

Menghadapi musim kemarau, Pemkot Pontianak juga telah membentuk tim dan menyiapkan langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan rawan seperti Pontianak Utara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara.

“Mudah-mudahan musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama sehingga pelayanan air bersih tetap berjalan optimal dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti,” pungkasnya. ( *prokopim* )