Daerah Lingkungan Peristiwa
Beranda / Peristiwa / Karhutla Berulang, Link-AR Borneo Soroti Ketimpangan Tata Kelola Lahan

Karhutla Berulang, Link-AR Borneo Soroti Ketimpangan Tata Kelola Lahan

PONTIANAK – Link-AR Borneo menilai bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang kembali melanda Kalimantan Barat pada Agustus 2026 menunjukkan persoalan yang belum menyentuh akar masalah.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan per 29 Agustus 2026 mencatat 6.526 titik panas di Kalimantan Barat, hampir dua kali lipat dibanding sehari sebelumnya. Sementara itu, kualitas udara Pontianak pada 30 Agustus mencapai indeks 987 atau kategori Berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 570 mikrogram per meter kubik.

Direktur Link-AR Borneo Ahmad Syukri menyebut karhutla berulang bukan semata persoalan alam, melainkan berkaitan dengan ketimpangan penguasaan lahan, deforestasi, kerusakan gambut, serta tata kelola perizinan kehutanan, perkebunan dan pertambangan.

Ia juga menyoroti penegakan hukum yang dinilai lebih banyak menyasar petani kecil. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan penindakan dilakukan secara berimbang, termasuk terhadap korporasi yang konsesinya ditemukan titik panas.

Link-AR Borneo mendesak pemerintah menetapkan karhutla dan bencana asap 2026 sebagai bencana nasional, mengevaluasi konsesi perusahaan, menghentikan kriminalisasi petani kecil, memulihkan gambut dan hutan, serta mengevaluasi rencana perluasan perkebunan sawit di Kalimantan Barat.

Air Baku Terintrusi Air Laut, Pemkot Pontianak Datangkan Pasokan dari Kubu Raya

“Selama ketimpangan penguasaan lahan dan tata kelola yang buruk dibiarkan, karhutla dan bencana asap akan terus berulang,” tegas Ahmad Syukri.

Berita Populer

01

MABT Indonesia Gelar Rakernas 2026 untuk Perkuat Program Kerja Nasional

02

Pengusaha Kalbar Siman Bahar Meninggal Dunia di Tiongkok

03

Rakerwil I ICDN Kalbar, Cendekiawan Dayak Siap Ambil Peran dalam Pembangunan Daerah

04

Lebih Elegan dan Eksklusif, Frank & co. Buka Kembali Gerai Ikonik di GAIA Pontianak

05

Menghadapi Digitalisasi: Masa Depan Media Cetak di Dunia yang Serba Online

Advertisement

Berita Lainnya